KALTIMS.COM - Mimpi buruk benar-benar terjadi bagi Borneo FC Samarinda. Ya, melakoni laga terakhir puataran pertama BRI Liga 1 2024/2025, skuad Pesut Etam tak berdaya ketika melawan Macan Putih. Bermain di Stadion Batakan Balikpapan, Jumat (27/12) malam, Borneo FC dipermak 0-4 dari tamunya Persik Kediri.
Pelatih kepala Borneo FC, Pieter Huistra mengatakan kartu merah cepat yang diterima Kei Hirose pada babak pertama menjadi awal kehancuran anak asuhnya. "Ini sangat jelas bahwa saya tak menyukai hal ini secara normal. Kami hanya bisa menyalahkan wasit hari ini. Wasit ini belum siap untuk Liga 1, dia sangat buruk," keluh Pieter Huistra.
Pelatih asal Belanda itu menilai seharusnya kartu merah tak didapatkan Kei jika wasit bisa lebih jeli. Apalagi VAR (Video Asisten Referee) tak optimal membantu. "Dia tidak memiliki petunjuk, VAR juga tak membantu apapun. Saya rasa kartu merah itu jelas bukan seharusnya kartu merah," urai Pieter sesuai pertandingan,
"Awalnya, dia memberikan tendangan bebas ke kami. Kei meletakkan kakinya karena ia tak bisa berdiri. Tentu saja itu bukanlah kartu merah dan itu jelas terlihat dipertandingan karena itu tak terlalu lama terjadi," tambah Pieter lagi.
Disebutkan Pieter juga, pada 20 menit pertama, menurutnya Borneo FC bisa mengontrol pertandingan dan seharusnya jika tetap bermain dengan skuad yang utug, ia yakin bisa mencetak gol.
"Satu dari kritikan bahwa saya memiliki tim sendiri dan kami harus bisa mencetak gol jika terjadi peluang. Kemudian ada salah satu hal tak beruntung terjadi bahwa kami mendapatkan gol lagi dan kemudian itu menjadi sulit. Kami telah mencobanya tetapi sulit, terlebih jika kami tertinggal satu gol dalam situasi seperti ini," geram pelatih berlisensi UEFA Pro itu.
"Tapi kembali, bagi saya tak dapat dipercaya bahwa PSSI bisa mengirimkan wasit muda yang tak pernah terdengar sebelumnya dan sepertinya belum memiliki pengalaman. Saya rasa itu bukan untuk Liga 1, mungkin dia bisa kembali ke Liga 3. Itu opini saya," kritiknya kepada PSSI. [AHS/*]