KALTIMS.COM - Pemain Bali United, Yabes Roni, mengirim surat somasi kepada 17 akun Instagram yang diduga menyebarkan ujaran rasisme terhadapnya setelah pertandingan melawan Persib Bandung awal Januari lalu.
Insiden ini berawal ketika Yabes mendapat kartu merah saat melakukan pelanggaran keras terhadap pemain Persib Bandung. Hal ini memicu hujatan dan komentar rasis dari beberapa fans di media sosial terhadap Yabes.
Namun, sampai saat ini belum ada satu akun pun yang menanggapi surat somasi tersebut. Yabes dengan tegas mengatakan bahwa dia akan memproses para pelaku sesuai hukum yang berlaku.
Padahal Yabes Roni telah menunggu 2 × 24 jam sejak 22-23 Januari 2025, namun tidak ada pelaku rasisme yang mendatangi Yabes Roni untuk meminta maaf secara langsung. Yabes Roni, didampingi Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), membawa kasus ini melalui Polda Bali ke ranah pidana pada Kamis, 23 Januari 2025.
Yabes berharap bahwa kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua orang dan tidak ada lagi kasus rasisme di sepakbola Indonesia. Namun, aksi rasisme tersebut berisiko berbuah hukuman dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, seperti denda atau larangan bermain. Persib Bandung sendiri telah memiliki rekam jejak pelanggaran disiplin dan berisiko berbuah hukuman dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
Sebelumnya, beberapa pekan lalu, pemain Dewa United, Alta Ballah juga menjadi korban rasisme saat pertandingan melawan Persib Bandung. Kala itu, Maung Bandung kalah 0-2 dari Anak Dewa. Alta pun menerima komentar rasisme dari suporter yang diduga pendukung Persib, termasuk emoticon berbentuk monyet. Alta sangat terpukul dan meminta agar tidak ada lagi tindakan rasisme di sepakbola Indonesia. Ia juga mendapat dukungan dari rekan setimnya.
Apakah Yabes Roni dan Altalariq Erfa Aqsal Ballah akan berhasil memperjuangkan haknya? Apakah Persib Bandung akan menerima hukuman yang setimpal akibat ulah suporternya? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. (AHS/**)