Dinamika Suporter Sepak Bola di Indonesia: Antara Dukungan dan Konflik

KALTIMS.COM - Suporter sepak bola merupakan komponen penting dalam industri sepak bola, terutama dalam menciptakan suasana yang mendukung dan membangkitkan semangat tim. Namun, kehadiran suporter juga kerap membawa konflik dan petaka, seperti tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang menewaskan 135 orang.

Tragedi tersebut bukanlah yang pertama dalam sejarah sepak bola. Pada 1985, final Liga Champions di Stadion Heysel, Brussel, Belgia, juga menyaksikan tragedi yang menewaskan 39 orang dan melukai lebih dari 600 orang lainnya. Konflik antar-suporter juga kerap terjadi, seperti bentrok antara suporter Aremania dan Bonek, serta Bobotoh dan The Jak.

Di Indonesia, larangan suporter away telah dikeluarkan oleh PSSI selama dua musim, sebagai akibat dari Tragedi Kanjuruhan. Namun, beberapa oknum suporter masih berulah, seperti kasus pelemparan bus Persik Kediri dan keributan antarsuporter di Stadion Indomilk Arena.

Menurut Erick Thohir, larangan suporter away masih berlaku, karena FIFA masih terus memantau perkembangan sepak bola di Indonesia. Asa untuk kehadiran suporter tim tamu musim depan masih jauh panggang dari api, terutama dengan kasus terbaru di tiga stadion yang akan menambah berat pertimbangan PSSI.

Dalam konteks ini, peran PSSI dan FIFA sangat penting dalam mengatur dan mengawasi kegiatan suporter sepak bola di Indonesia. Pembentukan regulasi yang ketat dan penegakan hukum yang tegas diperlukan untuk mencegah konflik dan tragedi yang tidak diinginkan.

Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur stadion yang memadai dan peningkatan kesadaran suporter tentang pentingnya menghormati lawan dan menghindari kekerasan juga diperlukan untuk menciptakan suasana sepak bola yang lebih aman dan menyenangkan. (RED)