KALTIMS.COM-Anggota Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI, Sofwan Dedy Ardyanto, memanfaatkan kunjungan ke Desa Wanurejo, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (25/9/2025), untuk memberikan kepastian bagi pendamping desa yang tengah dilanda keresahan akibat isu rekrutmen ulang.
Menurut Sofwan, keresahan itu wajar terjadi ketika ada ketidakjelasan status. Namun, ia memastikan informasi yang disampaikan Kementerian Desa cukup menenangkan karena belum ada rekrutmen baru dan masa kerja pendamping akan diperpanjang.
“Dengan kepastian ini, para pendamping bisa lebih fokus bekerja. Saya berharap mereka menyebarkan informasi yang benar ke komunitasnya masing-masing agar tidak menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya membangun suasana sejuk di tengah simpang siur isu yang berkembang. “Momentum ini saya gunakan untuk meneguhkan keyakinan mereka bahwa keberadaan pendamping desa tetap dibutuhkan,” tambahnya.
Dengan demikian, kata Sofwan, komunikasi yang jernih antara pemerintah, DPR, dan pendamping desa bisa mencegah kesalahpahaman yang berpotensi mengganggu pembangunan di desa.
Di sisi lain, Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini juga menekankan pentingnya peran pendamping desa di tengah besarnya alokasi dana desa yang dikucurkan pemerintah.
Menurutnya, dana desa yang jumlahnya signifikan membutuhkan pengawalan ketat agar pelaksanaannya tepat sasaran. “Di sinilah pendamping desa punya peran strategis. Mereka yang memastikan dana desa berjalan sesuai tujuan,” ujarnya.
Sofwan juga menyoroti keresahan yang muncul akibat isu simpang siur mengenai rekrutmen ulang pendamping desa. Ia menegaskan, banyak pendamping desa yang sudah berpengalaman dan terbukti memiliki kredibilitas tinggi.
“Kalau ada personel yang sudah dikenal, disukai, dicintai, dan dipercaya, untuk apa diganti? Yang perlu dievaluasi hanya mereka yang melanggar aturan atau tidak memenuhi standar kinerja,” jelasnya.
Ia bahkan mengingatkan dengan pepatah sederhana: “jangan ganti kuda perang di tengah pertempuran.” Menurutnya, desa saat ini sedang berada dalam perjuangan membangun, sehingga pergantian pendamping berpotensi mengganggu ritme pembangunan.