KALTIMS.COM - Program pemberian makanan sekolah senilai miliaran dolar yang digagas Presiden Prabowo Subianto kini menjadi bagian dari diplomasi Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia kemungkinan akan menjalin beberapa kemitraan internasional untuk memastikan rencana pemberian makanan kepada puluhan juta anak setiap hari berjalan baik.
Jumat (10/1) lalu, Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan pengarahan kepada anggota pers dan duta besar tentang prospek diplomasi luar negeri Indonesia untuk tahun mendatang di bawah presiden Prabowo. Pidato Sugiono selama satu jam menyinggung niat pemerintah untuk berinvestasi dalam sumber daya manusia melalui program makanan bergizi gratis.
"Kemandirian dan penguatan sumber daya nasional merupakan prioritas utama pemerintahan Prabowo-Gibran," kata Sugiono di Jakarta. "Ini termasuk program makanan bergizi gratis, yang bertujuan meningkatkan kualitas dan investasi bagi masyarakat Indonesia," terangnya lagi.
Sugiono menambahkan bahwa diplomasi Indonesia akan diarahkan untuk mendukung program pemerintah dalam memperkuat dan berinvestasi pada sumber daya manusia. Suatu negara hanya dapat memperoleh penghormatan internasional jika rakyatnya sejahtera dan cerdas.
Pemerintah meluncurkan program makan gratis awal minggu ini dan berencana meningkatkan jangkauannya secara bertahap. Program ini memberi makan sekitar 570.000 anak pada hari pertama. Targetnya adalah 15 juta orang, termasuk ibu hamil, pada akhir tahun 2025, dan 82,9 juta orang pada tahun 2029.
Masuknya Indonesia ke BRICS membuka pintu bagi Jakarta untuk mengakses pendanaan tambahan. Pemerintah telah menyisihkan Rp71 triliun atau sekitar $4,4 miliar untuk menjalankan program ini. [AHS/**]