KALTIMS.COM - Bank Indonesia (BI) melakukan penyesuaian suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam rapat kebijakan Januari. Langkah ini menandai pemangkasan pertama dalam empat bulan dan bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta mengendalikan inflasi.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa keputusan ini sejalan dengan prospek inflasi yang rendah untuk tahun 2025 dan 2026 serta stabilitas rupiah. "Diperkirakan akan tetap dalam kisaran target 2,5 persen, stabilitas rupiah, dan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tambahnya.
Pemangkasan ini menyusul penurunan suku bunga BI pada September 2024 dari 6,25% menjadi 6%, yang mempertahankan suku bunga acuan pada 6% selama empat bulan berturut-turut.
Selain itu, BI juga memangkas suku bunga fasilitas simpanan menjadi 5% dan fasilitas pinjaman menjadi 6,5%. Kebijakan makroprudensial akomodatif akan dilanjutkan untuk meningkatkan insentif likuiditas bagi perbankan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kredit dan pembiayaan ke sektor prioritas seperti UKM dan ekonomi hijau.
Kebijakan sistem pembayaran juga akan difokuskan untuk mendukung pertumbuhan, khususnya di bidang perdagangan dan UKM, dengan memperkuat infrastruktur pembayaran dan memperluas adopsi pembayara digital.
“Kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran akan memastikan stabilitas sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang.
Selain itu ia juga menerangkan pemangkasan suku bunga tidak sesuai dengan prediksi. Dan diperkirakan suku bunga tetap di angka 6%, dan konsisten dengan perkembangan ekonomi global dan penguatan dolar AS. Situmorang memperingatkan bahwa ruang BI untuk penurunan suku bunga lebih lanjut pada tahun 2025 dapat terbatas, terutama mengingat potensi dampak kebijakan perdagangan AS.
Bank Indonesia (BI) sendiri arus memprediksi ruang manuver untuk menurunkan suku bunga lagi pada 2025 terbatas. Keterbatasan ini dipicu oleh potensi dampak kebijakan perdagangan AS di bawah mantan Presiden Donald Trump yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Terlebih, penguatan dolar AS dapat mempertinggi tekanan pada rupiah, sehingga membatasi ruang manuver BI untuk menurunkan suku bunga. Namun, jika rupiah berhasil bertahan relatif stabil, penurunan suku bunga mungkin terjadi pada paruh kedua 2025. Untuk itu, stabilitas rupiah menjadi kunci untuk memungkinkan penurunan suku bunga.
Keputusan BI ini menyoroti mandat gandanya untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global dan upaya pemulihan domestik. BI harus menyeimbangkan kebijakan moneter dengan kebutuhan ekonomi riil.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut positif keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75%. Menurutnya, penurunan ini sangat tepat mengingat inflasi yang rendah, yakni 1,55%.
Disebutkannya penurunan BI Rate ini baik karena akan menurunkan cost of fund. Sebelumnya, BI menunda penurunan suku bunga untuk memantau kebijakan Federal Reserve AS, guna mencegah capital flight dan menjaga stabilitas keuangan. [AHS/**]